Monday, 27 November 2017

KISAH SERAM, HANTU SINDENG KUNING (VERSI INDONESIA)

Rabu, 28 oktober 2015. Tepat pukul 22.00 malam aku pulang dari rumah teman yang terletak di Lippo, Cikarang. Sendiri, ya hanya sendiri. Takut?! Tak ada kata itu didalam kamusku. Aku pacu pelan kecepatan bebek hitamku. Tiba dijalan Cilampayan, desa Pasir Tanjung, gerimis menemaniku. Tak ada niat untuk terburu sampai dirumah. Basah tak apa pikirku. Agen Domino

Dengan kecepatan yang stabil aku menikmati gelapnya jalan. Hanya ada lampu penerang jalan yang sling berjauhan. Bukan aku tak tahu ada cerita apa disepanjang jalan ini. Cerita yang telah menjadi buah bibir orang-orang sekitar Cikarang. Bahwa sinden yang dibegal dan diperk*sa belasan tahun lalu menguasai jalur ini. Tapi selama ini aku selalu aman. Bahkan saat pemakaman umum yang dikelilingi sawah digusur untuk dijadikan lapas, aku dan teman-teman sering nongkrong disini.

Bahkan terkadang menginap dibedeng para pekerja yang tengah membuat pondasi aku sering. Maklum tetanggaku salah satu bagian dari kuli. Kini, jalan semakin terang. Lapasnya pun telah resmi dibuka awal tahun ini. Sampai didepan lapas. Di bawah lampu jalan aku berhenti. Aku masukkan ponsel dan rokokku kedalam jok maticku. Setelah kurasa aman dari air hujan, aku kembali meneruskan perjalanan. Lapas kulewati. Sambil mengingat lirik lagu reagge yang tengah kuhafal, aku berhenti kembali. 100 meter dari lapas.


“Buset deh. Kenapa gak dari tadi sih. Sekalian” aku ngedumel sendiri. Buang air, ya aku kebelet buang air. Ya sudah aku buang air kecil saja dipinggir kali disamping. Setelah selesai aku sadar. Ternyata diseberang ada orang yang memperhatikanku. Seorang wanita sepertinya. “Mau boker kali” pikirku. Karna memang banyak jamban yang berdiri diatas sungai. Agen Sakong

Wanita itu tak juga kunjung pergi. Dia terus memperhatikanku. Aku pun jadi peenasaran siapa dia. Mengapa begitu terpaku. Otak ngeres pun keluar. Jangan-jangan dia salah satu p*kc*n yang sedang sepi pelanggan. Atau ibu-ibu yang sudah lama tak terjamah. “Maaf bu numpang buang air kecil” kataku dari kejauhan mencoba memancing. Wanita yang baru kusadari, berkabaya kuning itu hanya tersenyum.

No comments:

Post a Comment

Lain-lain